RSS

Sekolah Membuat Generasi Pasif ?

06 Nov

Oleh: Ir. Ratna Megawangi, M.Sc., Ph.D.

Education is the kindling of a flame, not the filling of a vessel. (Pendidikan adalah untuk menyalakan obor, bukan untuk mengisi bejana) – Socrates.

ADA sebuah lelucon yang saya sudah modifikasikan. Konon ada seorang profesor yang sering diundang untuk memberikan kuliah di mancanegara. Sewaktu ia mengajar di salah satu universitas di AS, kebetulan hari sedang hujan. Profesor itu berkata, “Wah…di luar sedang hujan lebat.” Para mahasiswanya ternyata menanggapinya dengan perdebatan cukup ramai.

“Kalau hujan seperti itu, namanya bukan hujan lebat.” “Itu tergantung dari definisinya, apa yang disebut hujan lebat,” kata seorang mahasiswa. “Tetapi definisi itu relatif, tergantung standar yang dipakai.” Dan seterusnya, sehingga suasana kelas menjadi penuh diskusi. Orang Amerika, apalagi para politisinya memang terkenal senang berdebat dan eloquent kalau berbicara.

Kemudian profesor tersebut mendapatkan kesempatan untuk mengajar di sebuah universitas di Jepang. Kebetulan hari juga sedang hujan. Profesor itu berkata, “Wah…di luar sedang hujan lebat”. Para mahasiswa menengok ke jendela, diskusi sebentar di antara mereka, dan mereka berdiri untuk pergi ke luar. Ada yang ke perpustakaan untuk mencari literatur tentang pengukuran jumlah curah hujan. Ada yang mengambil alat untuk mengukur curah hujan. Semuanya dilakukan bersama dengan cermat, serta dilakukan secara berulang-ulang. Orang Jepang memang terkenal gandrung dengan teknologi, senang bekerja dalam tim, dan sangat teliti dalam mengerjakan sesuatu.

Profesor tersebut juga mempunyai kesempatan untuk mengajar di salah satu universitas di Indonesia. Ternyata, hal yang sama juga terjadi. Prefesor itu berkata, “Wah….di luar sedang hujan lebat”. Suasana ternyata menjadi senyap, berbeda dengan pengalaman profesor sebelumnya. Yang membuat ia heran, mengapa seluruh mahasiswanya menunduk sambil menulis. Karena ingin tahu, profesor tersebut mendekati mereka dan melihat apa yang sedang ditulis mereka. Ternyata para mahasiswa Indonesia tersebut sedang menulis, “Wah…di luar sedang hujan lebat.” Persis mengulang apa yang dikatakan profesornya.

Ilustrasi di atas memang terlalu berlebihan untuk menggambarkan kualitas mahasiwa Indonesia. Tetapi mungkin ini merupakan cerminan dari umumnya kualitas SDM kita yang cenderung tidak kritis, rendahnya sikap curiosity (rasa ingin tahu), dan tidak kreatif. Semuanya itu mencerminkan juga rendahnya rasa cinta belajar orang Indonesia.

Sikap seperti itu tampaknya sudah dikondisikan sejak kecil melalui sebuah sistem pendidikan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga mematikan gairah belajar siswa karena suasana belajar yang membosankan. Pada sistem seperti itu para siswa hanya menjadi objek pasif yang harus menelan seluruh isi kurikulum sesuai dengan apa yang ditargetkan. Tujuannya adalah agar para siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan, bukan menjadikan para siswa tertarik dan mencintai apa yang dipelajari. Para guru dibebani target kurikulum padat yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Akibatnya, suasana kelas menjadi tegang, monolog, tidak kontekstual karena terlalu teoretis dan abstrak, serta tidak mencelupkan anak ke dalam pengalaman konkret.

Bayangkan, kalau sejak kelas 1 SD (bahkan ada yang mulai dari TK) sampai tingkat SLTA, apalagi kalau sampai universitas, para siswa dipaksa untuk duduk diam mendengarkan guru, mencatat, tanpa dialog interaktif antara guru dan murid, apalagi multilog (antara guru-siswa, siswa-siswa, siswa dengan dirinya sendiri untuk merenungkan dan merefleksikan mata pelajaran). Siswa juga disuruh menghafal mata pelajaran yang abstrak, maka tidak mengherankan kalau generasi yang dihasilkan adalah generasi”robot” seperti yang digambarkan kisah lelucon di atas. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak orang yang bersikap yes man, serta mudah terbawa arus kelompok.

Kalau melihat umumnya suasana belajar di Indonesia, sulit bagi kita untuk menemukan wajah-wajah cerah dan ceria yang menandakan kecintaan mereka dalam menuntut ilmu, yaitu rasa kegairahan, rasa ingin tahu, dan rasa ingin mendalami apa yang sedang dipelajarinya. Seperti yang diungkapkan Socrates di atas, proses pendidikan adalah untuk menyalakan obor kegairahan untuk terus belajar, sehingga menjadi manusia yang lifelong learners.

Sistem pendidikan yang selama ini dijalankan justru telah memadamkan obor tersebut, sehingga yang terlihat adalah wajah-wajah apatis dengan tatapan mata tanpa sinar karena menahan perasaan bosan, dan tidak sabar menunggu kapan waktu pelajaran berakhir. Saya yakin sampai para mahasiswa pun masih banyak yang bergembira kalau ada kuliah yang dibatalkan karena dosennya berhalangan.

Padahal hasil riset otak menunjukkan bahwa apabila suasana belajar tegang dan membosankan, atau siswa dalam keadaan stres, bagian limbik otak akan mengeluarkan zat kimia cortisol yang akan mempengaruhi fungsi bagian cortex menjadi tidak optimal dalam berpikir dan beranalisis. Limbik otak sering disebut “emotional mind”, yaitu bagian otak yang akan meningkatkan kinerja cortex dalam proses belajar kalau suasana emosi seseorang sedang dalam keadaan gembira dan rileks, sehingga isi pelajaran lebih mudah dimengerti.

Suasana belajar yang menyenangkan akan tercipta kalau sistem belajar diubah dari yang klasikal (siswa pasif), menjadi lebih melibatkan peran aktif siswa, lebih konkret atau tidak abstrak, kontekstual, dan tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Metode belajar yang menyenangkan ini (joyful learning) mencakup metode yang disebut Developmentally Appropriate Practices, Integrated Learning, Cooperative Learning, Collaborative Learning, Contextual Learning, atau Holistic Education.

Sebetulnya, program pemerintah Broad-based Education yang mencakup Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) yang sedang dijalankan, dapat memberikan peluang untuk terjadinya perubahan suasana belajar di sekolah yang lebih menyenangkan. Apalagi didukung oleh adanya kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang memberikan otonomi kepada setiap sekolah untuk dapat meningkatkan mutu pengajarannya secara mandiri.. Namun, seperti biasanya, program itu masih terbentur pada bagaimana implementasinya di lapang, karena masih belum jelasnya tentang konsep Life Skill itu sendiri bagi para guru, apalagi sampai bagaimana mengalirkannya ke dalam kelas.

Kebetulan saya terlibat dalam sebuah pilot project untuk menerapkan modul Pendidikan Kecakapan Hidup untuk TK dan SD kelas rendah. Modul ini memakai tema-tema untuk mengintegrasikan setiap mata pelajaran sehingga saling terkait (integrated learning). Para siswa lebih dituntut untuk aktif terlibat baik dalam diskusi maupun dalam praktek (student active learning), pelajaran lebih konkrit yang sesuai dengan kehidupan nyata, serta lebih banyak bekerja dalam tim (contextual learning dan cooperative learning).

Modul ini tidak mengubah kurikulum yang ada, tetapi hanya “menjahit” kembali isi mata pelajaran sehingga menjadi terintegrasi dan menarik bagi anak-anak dalam masa tahapan “konkret operasional” (menurut Piaget).

Ternyata para siswa terlihat begitu antusias, bahkan seorang kepala sekolah berkata bahwa selama lebih 30 tahun pengalamannya menjadi pendidik, ia tidak pernah menyaksikan para siswa yang begitu gembira dan penuh motivasi untuk belajar. Ketika lonceng berbunyi untuk pulang, para siswa banyak yang enggan pulang, bahkan ada yang meminta kepada gurunya agar hari Minggu juga masuk ke sekolah.

Menumbuhkan kecintaan anak untuk belajar, akan membentuk karakter yang kritis dan kreatif, bermotivasi tinggi untuk terus mencari tahu, rasa tidak puas dengan ilmu yang diperolehnya, serta sikap kerja keras dan pantang menyerah. Bagi mereka yang tertarik mengetahui lebih lanjut tentang Integrated Curriculum ini, dapat mengakses http://ihf-org.tripod.com/.

Delik Hudalah
Amalia van Solmsstraat 46B, 9717 AP Groningen, the Netherlands
Mobile: +31 626 549 346; Phone: +31 50 363 8289
email: d.hudalah[at] gmail[dot] com

Dear rekan sekalian,
Sebuah tulisan yang agak provokatif, tapi bisa baik untuk bahan refleksi. PR besar untuk perbaikan pendidikan di Indonesia. Kalo menurut saya, sistem pendidikan jika kurang dikelola dengan baik, tidak hanya sekedar akan membentuk generasi yang pasif sebagaimana dituliskan artikel dibawah, tetapi lebih bahaya lagi akan menghambat: perkembangan kapasitas intelektual, proses pendewasaan diri dan pembentukan moral/karakter, sehingga justru bertentangan dengan tujuan paling mendasar dari pendidikan itu sendiri. Sehingga sangat ironi jika orang yang sukses dan berkarakter seringkali justru memiliki proses sejarah pendidikan formal yang ‘kelam’, dan orang gagal dan korup seringkali malah memiliki pengalaman pendidikan formal yang sangat bagus. Wallohualam.

Tulisan ini diambil dari Notes di Facebook Otto Hartono: Sekolah Membuat Generasi Pasif? ( Admin )

 
Leave a comment

Posted by on November 6, 2009 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: